BAGAIMANA HIPERTENSI MENYEBABKAN KERUSAKAN GINJAL?

Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi dimana tekanan di dalam pembuluh darah (arteri) berada di atas batas nilai normal. Tekanan darah terbagi menjadi dua yaitu tekanan darah sistolik yang merupakan angka atas dari pengukuran darah dan diastolik yang merupakan angka bawah, keduanya memiliki satuan milimeter air raksa (mmHg).

Tekanan sistolik adalah tekanan maksimal saat jantung berkontraksi sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan terendah diantara kontraksi (jantung beristirahat). Secara umum seseorang dikatakan tergolong hipertensi apabila tekanan darah sistolik berada di atas nilai 130 mmHg dan tekanan diastolik memiliki nilai di atas 90 mmHg. Kondisi hipertensi memiliki berbagai risiko, diantaranya adalah penyakit jantung dan gangguan fungsi ginjal. Hipertensi adalah penyebab utama dari penyakit ginjal kronik di Indonesia.

Ginjal terdiri dari unit fungsional yang bernama nefron yang diantaranya tersusun dari pembuluh darah. Nefron menerima aliran darah dari jantung dalam jumlah yang besar setiap menitnya, untuk disaring dan digunakan kembali oleh tubuh. Meningkatnya tekanan dalam pembuluh darah pada pengidap hipertensi akan meningkatkan tekanan dan beban kerja dari nefron, dan apabila hal ini berlangsung terus menerus dalam jangka panjang akan menyebabkan pembuluh darah menjadi menyempit, mengeras dan melemah.

Kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi akan menyebabkan kerusakan nefron juga. Nefron yang telah rusak tidak dapat memperbaharui diri sehingga menyebabkan kerusakan ginjal yang bersifat permanen. Karena salah satu fungsi ginjal adalah dalam proses pengaturan tekanan darah, maka kerusakan ginjal akan berdampak pada semakin buruknya kondisi hipertensi yang terjadi.