Catatan Harianku di Tahun 2016
07 Augustus 2018

Dewa Adiat, Pasien

 

AKU DIVONIS GAGAL GINJAL DI 24 TAHUN UMURKU

Masih terngiang di telingaku suara dokter di sebuah klinik di Cibubur, begitu mengejutkanku. Aku divonis gagal ginjal. Aku dapat merasakan kecemasan dalam perkataannya, melihat kadar racun sisa metabolisme tubuh (ureum dan kreatinin) dalam darahku sudah menunjukkan level tinggi. Dia hanya berkata bahwa aku harus cuci darah untuk dapat menyambung hidup. Aku takut, aku sedih dan tergoncang. Tetapi aku tidak ingin menunjukkan itu semua, aku tidak ingin terlihat lemah. Dan itulah yang selalu ku perlihatkan pada semua orang.

AKU TIDAK MERASAKAN GEJALA

Aku berada di rumah sakit daerah Bekasi yang membuka jasa layanan pemerintah atau BPJS, maklum untuk mendapatkan jasa bebas biaya aku harus memilih rumah sakit yang bisa memberikan layanan tersebut. Pergi ke sini pun karena paksaan dari dokter, aku memang merasa sehat saat itu. Hanya terkadang kakiku sering kram dan merasa seperti kesemutan seluruh tubuh. Mungkin tidak perlu opname, cukup dengan obat jalan, pikirku. Tetapi, ada ketakutan dari hatiku, karena sudah dua minggu kram dan rasa lelah yang sangat tidak dapat kuhindarkan, aku mengkonsumsi vitamin untuk tulang dan menaikkan asupan kalium dan kalsiumku karena kupikir penyebab kram di tubuhku adalah kurangnya kalium dan kalsium. Aku juga menelan pil vitamin B complex dengan dosis tinggi untuk meringankan kesemutan yang kurasakan disekujur tubuhku. Tetapi nihil, keputusanku semakin bulat untuk opname karena tidak ada pengaruh positif obat yang kurasakan. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk di opname. Di Rumah sakit, aku langsung mendapat oksigen karena saturasi oksigen dalam tubuhku rendah, itu pun tidak ku pakai. Dalam otakku tertanam opini kalau memakai selang oksigen terlihat seperti orang yang sakit parah, dan aku tidak mau. Bagian laboratorium langsung mengambil sampel darah, urine, dan fesesku.

HARUS RUTIN HEMODIALISIS (CUCI DARAH)

Gagal ginjal atau mengalami kerusakan ginjal mengharuskan penderitanya untuk melakukan hemodialisis secara rutin. Hal ini disebabkan karena ginjal mengalami penurunan fungsi. Ternyata bukan hanya sebagai penyaring darah dari zat-zat sisa metabolisme, tetapi fungsi ginjal juga memproduksi hormon untuk pembentukan sel darah merah, mengatur tensi darah, dan berperan dalam pengaturan distribusi kalsium ke tulang. Jadi yang aku rasakan seperti kram dan kesemutan adalah karena gejala dari adanya gangguan di ginjalku. Kram yang kualami karena transfer kalsium di dalam tulangku berkurang dan aku mengalami kesemutan seluruh tubuhku disebabkan hemoglobin dalam darahku rendah. Tetapi waktu itu pikiranku tidak sejauh itu. Cuci darah adalah proses penyaringan darah dari air dan zat-zat sampah, seperti menggantikan fungsi ginjal. Karena penderita ginjalnya tidak lagi mampu menyaring air yang masuk, inilah yang kadang membuat tubuh penderita menjadi besar seperti bengkak-bengkak jika tidak mengontrol asupan cairan ke tubuh. Ginjal mampu mengatur keseimbangan cairan dalam tubuh, jika tubuh kelebihan cairan maka ginjal akan menyaring cairan tersebut dan membuangnya dalam bentuk urin. Oleh karena ginjal sudah rusak, maka urin yang diproduksipun sedikit, dan asupan air perlu ada control yang ketat.

SEKARANG AKU IKHLAS DAN PASRAH

Aku masih lugu dan polos dan belum mengetahui betul penyakitku ini. Aku masih menganggap mungkin hanya perlu cuci darah sebulan untuk menyembuhkan penyakit ini. Ternyata fakta menyebutkan bahwa kadar racun (kreatinin) dalam tubuhku walaupun sudah dicuci masih terlalu tinggi (sekarang: 7,00 mg/dL untuk normalnya 0,6-1,2 mg/dL) kalau belum dicuci 153,2 mg/dl. Angka itu menunjukkan bahwa aku adalah penderita gagal ginjal terminal yang harus melakukan cuci darah seumur hidup untuk bertahan hidup. Aku tidak terima dengan penyakit ini, aku belum bisa ikhlas. Bayangkan, aku adalah orang yang ceria dan aktif dikalanganku. Dari semenjak mahasiswa aku telah mengikuti berbagai organisasi dan saat bekerja aku juga banyak mengikuti klub dan menjadi penanggung jawab berbagai project. Aku sangat bersyukur dengan itu, aku juga selalu memiliki rencana jangka panjang untuk mengatur hidupku. Termasuk karier dan berumah tangga, walaupun usiaku masih 24 tahun. Tetapi, dengan tiba-tiba semua hancur dan terasa hilang, aku harus resign bekerja dan pulang ke kampung halaman. Hari-hari ku lalui di rumah tanpa kegiatan karena rasa lemah dan lesu akibat anemia yang tidak dapat ku hindari. Aku juga harus melupakan rencana dan kegiatan harianku yang selalu terjadwal mulai bangun subuh dan jogging serta karaoke tiap akhir pekan. Yang benar-benar menyiksaku adalah aku dilarang minum banyak. Padahal, aku adalah pecinta air putih, dan kuat meminum banyak. Kalau tidak minum sebentar, terasa kering dan kurang segar. Aku diharuskan minum sesuai volume urin yang dapat ku keluarkan, sehari sekitar satu setengah gelas kecil. Tetapi, terkadang aku melanggar aturan karena sangat tidak nyaman dan merasa dihidrasi. Beratku turun drastis sebanyak 9 kg (dari 64 kg menjadi 55 kg). Buah-buahan tinggi kalium dan natrium harus dihindari. Dan aku benar-benar menghindarinya. Dulu setiap sebelum makan aku pasti makan buah walau hanya sedikit, karena aku memang sangat menyukai kesegaran buah-buahan dan tentunya manfaatnya. Kini aku merasakan hidupku benar-benar terbalik. Hanya dirumah, menulis dan membaca, terkadang merasa sepi dan bosan, tetapi aku harus ikhlas dan sabar. Itulah kira-kira mindset ku sebulan atau dua bulan yang lalu. Selalu mengeluh dan mengeluh. Tapi kini, aku ikhlas. Aku percaya bahwa semua yang terjadi adalah kehendakNya dan aku harus menerimanya. Bukankah Tuhan, selalu memberikan yang terbaik buat kita. Dan rencanaNya ini merupakan jalan terindah yang kurasakan. Setiap penyakit ada obatnya, Alloh yang memberi penyakit ini dan hanya Alloh juga lah yang mampu menyembuhkannya. Aku percaya dan akan selalu percaya.

 

Dewa Adiat
29 Oktober 2016

CERITA LAINNYA