Cuci Darah Adalah Awal dari Kehidupan yang Kedua
07 Augustus 2018

Ibu Ellin Igho, pasien

 

Agustus 2016 - Agustus 2018

Masih teringat 2 tahun lalu, saat dokter memvonis bahwa aku harus cuci darah. Terdiam, terpaku, tanpa ekspresi hanya senyuman hampa yang bisa kuberikan pada dokter yang sudah merawat hipertensiku sejak tahun 2012. Tidak ada penolakan dan tidak ada penerimaan dalam diri atas semua vonis itu.

Kutunjukkan ketegaran hati dihadapan anak-anak dan suami walau hati menjerit menangis di saat kupandangi wajah anak-anakku dengan air mata yang menetes dan tatapan ketidakpercayaan mereka akan penyakit mamanya serta wajah anakku yang kecil yang baru berumur 4 tahun dan saat itu karierku sedang diatas tapi semua tak dapat kuhindari karena racun tubuh (kreatinin 12,7 dan ureum 400). Kutegarkan tubuhku dan tangisan yang tak dapat ku tahan dihadapan anak-anak dan suami dengan terbata kukatakan agar mereka membantuku untuk melawan penyakit ini kuyakini pada mereka bahwa aku bisa bertahan dan tak akan menyerah tak akan kutinggalkan mereka.

Terus menerus kucari pengetahuan agar aku dapat bersahabat dengan penyakit GGK (Gagal Ginjal Kronik)-ku baik dari segi makanan serta apa saja dampak dari cuci darah. Terkadang di saat aku cuci darah, dokter dan perawat-perawat kuajak diskusi soal penyakitku.

Dan perlahan-lahan kudapat bersahabat dengan penyakitku, dimana aku bisa mempertahankan kadar Hb (Hemoglobin) diatas 9,9 tanpa aku menyuntikkan Hemapo setiap cuci darah dan karier yang sempat kulepaskan, perlahan kuraih kembali dengan kesehatan fisik yang kuperlihatkan pada pimpinan dan rekan-rekan kerja semua, dimana kumulai bisa mengatur kapan tubuhku membutuhkan waktu istirahat dan bekerja dan di sela-sela jam pekerjaan aku masih bisa antar jemput anak-anak untuk bersekolah.

CERITA LAINNYA