APAKAH HUBUNGANNYA PREEKLAMSIA SELAMA HAMIL DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIS?

Preeklamsia adalah salah satu komplikasi yang menyebabkan angka kematian terbesar dalam kehamilan. Pada preeklamsia terjadi kerusakan lapisan endothel (salah satu lapisan di pembuluh darah) yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, terdeteksinya protein dalam urin dan dapat menyebabkan kejang.  Preeklamsia juga diketahui memiliki dampak jangka panjang terhadap ginjal sehingga dapat meningkatkan risiko hipertensi atau tekanan darah tinggi kronis, penyakit ginjal kronis dan juga berkaitan dengan penyakit jantung dan pembuluh darah.

Plasenta adalah organ inti yang mempengaruhi preeklamsia. Selama kehamilan normalnya sel-sel trofoblas menginvasi lapisan rahim dan menginduksi perubahan bentuk pembuluh darah arteri yang bertujuan untuk memberi nutrisi pada janin dalam kandungan. Perubahan bentuk pembuluh darah ini akan memungkinkan peredaran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke janin. Pada wanita dengan preeklamsia, terjadi ganguan pada proses invasi tersebut sehingga perubahan atau modifikasi bentuk pembuluh darah arteri spiral di rahim berjalan tidak normal. Diameter ruang di dalam arteri tetap sempit sehingga sirkulasi darah dari plasenta menjadi buruk dan terjadi keadaan dimana kadar oksigen sangat rendah atau disebut dengan hipoksia. Selanjutnya aliran darah dan oksigen yang kurang tersebut mencetuskan kondisi iskemia dimana sel-sel rentan masuk dalam tahap kematian dan menginduksi terbentuknya reaktif oksigen spesies yang merupakan radikal bebas sehingga menyebabkan reaksi radang. Faktor-faktor tersebut diketahui akan merangsang terjadinya tekanan darah tinggi pada ibu hamil.

Dalam ginjal, sel-sel di bagian penyaringan atau disebut dengan bagian glomerulus tampak bengkak dan kehilangan fungsi penyaringannya sehingga terjadi penumpukan fibrinoid, cairan dan lemak yang akan menyebabkan disfungsi atau tidak bekerjanya bagian glomerulus yang pada tahap selanjutnya akan terdeteksi dengan terbuangnya protein dalam air kemih.

Dampak jangka panjang dari preeklamsia bisa menetap pada seorang wanita. Dari beberapa studi preeklamsia diketahui dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang permanen pada wanita dengan riwayat preeklamsia dan tanpa riwayat penyakit ginjal kronis sebelumnya. Kerusakan lapisan endothel selama preeklamsia dapat kembali setelah persalinan normal masih belum diyakini kebenarannya karena pemeriksaan biopsi ginjal beberapa waktu setelah proses persalinan dengan fungsi ginjal yang normal dari pemeriksaan laboratorium tidak rutin dilakukan.

Faktor lainnya yang memperburuk kondisi ini adalah hilangnya sel-sel podosit atau se-sel penyaring pada ginjal. Ketika pertumbuhan sel-sel glomerular melebihi kapasitas podosit untuk beradaptasi dan tidak cukup untuk menyelubungi seluruh permukaan penyaringan, podosit dapat terlepas dari bagian basal atau dasar glomerulus. Hilangnya laposan podosit ini adapat menyebabkan terlepasnya protein dalam proses penyaringan sehingga keluar dari dalam tubuh bersamaan dengan urin.

Seperti diketahui, preeklampsia merupakan kondisi di mana kehamilan disertai dengan naiknya tekanan darah meski tanpa ada riwayat hal tersebut sebelumnya. Lebih lanjut dalam penelitian terbaru ini, para peneliti memeriksa data 2,67 juta kelahiran di antara 1,37 juta perempuan periode 1982 - 2012. Sebanyak 67.273 perempuan atau sekitar 4,9 persen mengalami preeklampsia setidaknya dalam satu kali kehamilan, dan sebanyak 420 perempuan mengalami penyakit ginjal tahap akhir. Perempuan yang mengalami preeklampsia dalam dua kali kehamilan lebih berisiko tujuh kali lipat mengalami penyakit ginjal tahap akhir dibandingkan ibu hamil yang tidak pernah mengalami preeklampsia.  Wanita yang pernah mengalami preeklamsia memiliki risiko tinggi berkembangnya end stage renal disease (ESRD) dalam jangka panjang. perempuan dengan riwayat preeklamsia tak perlu khawatir berlebihan. Sebab, secara keseluruhan risiko terkena penyakit ginjal tahap akhir tetap kecil.

Gejala umum preeklampsia antara lain tekanan darah naik secara signifikan di masa kehamilan, ditemukannya protein di dalam urine, kepala pusing, iritasi, berkurangnya urine, hingga nyeri pada beberapa bagian tubuh. Misalnya wajah, tangan, dan kaki akibat penumpukan cairan, Sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada plasenta:

  • Pernah atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, penyakit autoimun, dan gangguan darah
  • Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya
  • Baru pertama kali hamil
  • Hamil lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya
  • Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun
  • Mengandung lebih lebih dari satu janin
  • Mengalami obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2
  • Kehamilan yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)
  • Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga

Untuk mendeteksi atau skrining dini preeklamsia, beberapa hal yang harus diperhatikan adalah keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarganya. pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan.

Jika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jeda waktu 4 jam, pemeriksaan penunjang berikut dibutuhkan untuk memastikan diagnosis preeklamsia:

  1. Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine
  2. Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah
  3. Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin
  4. USG Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta
  5. Nonstress test (NST), untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan

 

Daftar Pustaka :

  1. Lafayette R. The kidney in preeclampsia. Kidney international. 2005 Mar 1;67(3):1194-203.
  2. Kristensen JH, Basit S, Wohlfahrt J, Damholt MB, Boyd HA. Pre-eclampsia and risk of later kidney disease: nationwide cohort study. bmj. 2019 Apr 29;365:l1516.
  3. Ponticelli C, Moroni G. Is preeclampsia a risk for end-stage renal disease?. Kidney international. 2019 Sep 1;96(3):547-9.
  4. Balen VA, Spaan JJ, Cornelis T, Spaanderman ME. Prevalence of chronic kidney disease after preeclampsia. Journal of nephrology. 2017 Jun 1;30(3):403-9.

Daftar Gambar :

https://womensobgynmed.com/pregnancy/routine-pregnancy-check-ups/