DIET KETO PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT GINJAL KRONIK: YES OR NO?

Diet keto merupakan diet yang sedang populer saat ini, terutama pada individu yang bermasalah dengan penurunan berat badan. Konsep diet yang mengonsumsi makanan tinggi lemak dan rendah karbohidrat ini banyak digandrungi karena kandungan lemak yang tinggi dalam menu makan dirasakan lebih nikmat dan tidak terlalu menyiksa seperti tipe diet pada umumnya. Pembatasan asupan karbohidrat di dalam diet keto bertujuan agar tubuh menggunakan lemak lebih banyak sebagai sumber energi cadangan yang akan dibakar dalam suatu proses yang bernama lipolisis. Proses lipolisis akan menghasilkan benda keton (sehingga diet ini dinamakan diet keto) yang akan digunakan sebagai sumber energi sel tubuh. Dalam diet keto asupan lemak ditingkatkan hingga mencapai 75% dari total asupan kalori makanan dalam sehari, dan asupan karbohidrat diturunkan hingga hanya 5% dari total kalori harian (sekitar 20-30 gram saja per hari).

 

Karena banyak yang mengalami penurunan badan dalam menjalani diet ini, maka seringkali timbul pertanyaan apakah diet keto dapat dijalani oleh seseorang dengan obesitas dan mengidap penyakit tertentu, seperti halnya Penyakit Ginjal Kronik (PGK). Penurunan berat badan pada pasien PGK diharapkan akan memperbaiki kontrol gula darah sehingga dapat memelihara fungsi ginjal sisa. Terlepas dari kontroversinya, meskipun ada pendapat dan ulasan yang menyatakan manfaat diet ini pada pasien ginjal, berikut beberapa pertimbangan yang menentang dieterapkannya diet ini pada pasien PGK:

  • Diet keto seringkali menimbulkan keluhan bagi yang menjalaninya, terutama pada minggu-minggu awal seperti perubahan mood, kepala pusing, lemas, jantung berdebar, gatal pada kulit, hingga peningkatan kadar asam urat dan kolesterol. Pembatasan asupan karbohidrat secara drastis saat menjalani diet keto pada pasien PGK rentan terhadap risiko hipoglikemia (terutama bagi pasien PGK dengan diabetes melitus yang mengonsumsi obat diabetes) dan suatu kondisi yang bernama ketoasidosis (akibat tingginya benda keton dalam darah tubuh) yang berbahaya dan mengancam nyawa. Pada ketoasidosis, kadar keton yang tinggi dalam darah bersifat toksik dan menimbulkan gejala meliputi rasa haus, sering buang air kecil, mual, nyeri perut, lemas, napas beraroma buah, dan kebingungan.
  • Pemilihan jenis lemak yang salah saat menjalani diet keto dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida serta asam urat yang merupakan faktor yang meningkatkan penyakit jantung dan pembuluh darah. Tingginya asam urat dalam tubuh juga akan semakin memperberat kerja ginjal sisa.

 

Melihat risiko-risiko yang dapat terjadi dan masih belum banyak penelitian yang mendukung keamanan diet ini pada pasien PGK, sebaiknya pasien PGK menghindari diet ini, apabila dilakukan harus mendapat persetujuan dari dokter yang merawat dan dengan supervisi yang ketat.

 

Daftar Pustaka
1.    Dashti HM, Mathew TC, Hussein T, et al. Long-term effects of a ketogenic diet in obese patients. Exp Clin Cardiol. 2004;9(3):200–5.
  1. Ketogenic Diet. Available from: https://www.diabetes.co.uk/keto/
3.    The Keto Diet Is Gaining Popularity, but Is It Safe? Available from: https://www.healthline.com/health-news/keto-diet-is-gaining-popularity-but-is-it-safe-121914#1
 
Sumber Gambar
https://news.usc.edu/154342/is-the-keto-diet-safe-usc-experts-have-some-serious-concerns/