TRANSPLANTASI GINJAL

Transplantasi ginjal (atau biasa juga disebut cangkok ginjal) adalah suatu metode terapi dengan menggunakan ginjal sehat yang didonorkan/ diberikan melalui prosedur pembedahan. Ginjal sehat dapat berasal dari individu yang masih hidup (donor hidup) atau yang baru saja meninggal (donor kadaver). Ginjal yang ditransplantasikan selanjutnya akan mengambil alih fungsi kedua ginjal yang sudah rusak. Kedua ginjal lama, walaupun sudah tidak banyak berperan tetap berada pada posisinya semula, tidak dibuang, kecuali jika ginjal lama ini menimbulkan komplikasi infeksi atau tekanan darah tinggi.

Transplantasi ginjal hingga saat ini masih merupakan terapi pengganti ginjal yang paling ideal karena menghasilkan rehabilitasi/ pemulihan yang lebih baik dibandingkan dialisis (hemodialisis atau CAPD). Transplantasi ginjal merupakan transplantasi yang paling banyak dilakukan dan pasien dapat mencapai lama hidup paling panjang dibanding transplantasi organ tubuh lainnya.

Prosedur Transplantasi Ginjal

Agar transplantasi ginjal berhasil dengan baik, ginjal yang didonorkan harus mempunyai kecocokan secara imunologi dengan ginjal resipien/ penerima ginjal transplantasi. Selain golongan darah yang harus sama, keberhasilan transplantasi ginjal ditentukan oleh kecocokan antigen yang dikenal dengan nama HLA (human leukocyte antigen) antara donor dan resipien. Waktu paruh ginjal cangkok pada HLA identik adalah 20-25 tahun, HLA yang sebagian cocok (one-haplotype match) adalah 11 tahun dan pada donor jenazah adalah 7 tahun. Lama hidup pasien yang mendapat donor ginjal hidup lebih baik dibandingkan donor jenazah, hal ini kemungkinan karena pada donor jenazah memerlukan lebih banyak obat imunosupresi.

Prosedur transplantasi ginjal adalah dengan menempatkan ginjal baru pada rongga perut bagian bawah (dekat daerah panggul) agar terlindung oleh tulang panggul. Pembuluh nadi (arteri) dan pembuluh darah balik (vena) dari ginjal “baru” ini dihubungkan ke arteri dan vena tubuh. Dengan demikian, darah dapat dialirkan ke ginjal sehat ini untuk disaring. Saluran kemih dari ginjal baru selanjutnya dihubungkan ke kandung kemih agar urin dapat dialirkan keluar. Lama operasi berkisar antara 1.5-3 jam, namun apabila terdapat penyulit, lama operasi dapat lebih panjang.

Bila kondisi pasien dan fungsi ginjal sudah relatif stabil, pasien dapat keluar dari rumah sakit, dan biasanya dalam kurun waktu 1-2 minggu setelah transplantasi.

Perawatan setelah transplantasi ginjal

Keberhasilan transplantasi ginjal sangat bergantung pada beberapa faktor, biasanya angka keberhasilan sekitar 89-95% pada tahun pertama setelah operasi. Untuk menunjang keberhasilan transplantasi, pasien disarankan untuk:

1.

Berdiskusi dan berkonsultasi dengan tenaga medis secara berkala (pada 6-8 minggu pertama setelah transplantasi, pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter sebanyak seminggu sekali) dan mengikuti anjuran/ saran yang diberikan.

2.

Mengkonsumsi obat-obatan yang diberikan termasuk obat imunosupresan dalam dosis dan waktu yang dianjurkan oleh dokter. Pasien disarankan untuk menggunakan pengingat untuk mengkonsumsi obat (misal menggunakan pengingat di handphone).

3.

Secara rutin melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan bahwa ginjal baru dapat bekerja dengan baik.

4.

Menerapkan gaya hidup sehat, termasuk diet yang sesuai, olah raga yang disesuaikan, menghentikan kebiasaan merokok dan menurunkan berat badan apabila diperlukan.

5.

Berdiskusi/ berkonsultasi dengan dokter apabila terjadi kondisi berikut ini:

  • Sakit, luka atau cedera, terutama yang tidak kunjung sembuh.

  • Gejala infeksi saluran kemih seperti sering kencing, rasa nyeri/ terbakar saat kencing, urin keruh atau berwarna merah atau berbau menyengat.

  • Gejala infeksi saluran nafas seperti batuk, penyempitan jalan nafas, hidung berair, tenggorokan sakit/ gatal, atau demam.

Reaksi penolakan tubuh yang mempengaruhi keberhasilan transplantasi ginjal dibedakan menjadi 2:

1. Reaksi penolakan akut

Biasanya terjadi selama 1 tahun pertama setelah transplantasi dan biasanya dapat ditangani dengan baik. Dokter dapat menilai adanya penolakan akut dari hasil pemeriksaan laboratorium (kadar kreatinin dalam serum dan urea) dan melalui biopsi. Beberapa gejala yang dapat dirasakan oleh pasien, antara lain: penurunan volume urin, rasa sakit pada ginjal.

2. Reaksi penolakan kronis

Biasanya terjadi secara perlahan-lahan dalam periode waktu yang panjang. Penyebabnya sering kali tidak diketahui dan penanganannya sering kali kurang berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.medecube.com/install/wp-content/uploads/2016/08/kidney.png

Prosedur Transplantasi Ginjal

Secara keseluruhan, tujuan dari transplantasi ginjal adalah agar pasien dapat kembali beraktivitas secara normal seperti biasanya, termasuk bekerja. Waktu yang diperlukan pasien agar dapat kembali bekerja setelah transplantasi tergantung dari jenis pekerjaan yang dimiliki pasien, lamanya pasien menjalani rawat inap di rumah sakit dan mendapat terapi dan seberapa baik pasien dapat menerima ginjal yang didonorkan. Bila pekerjaan pasien tidak melibatkan aktivitas fisik yang berat, pasien dapat mulai bekerja dalam kurun waktu 6 minggu sampai 2 bulan setelah transplantasi. Bila diperlukan aktivitas fisik, pasien dapat kembali beraktivitas dalam 3 bulan setelah menjalani transplantasi.

Infeksi sebagai efek samping obat imunosupresan

Obat imunosupresan berperan dalam mencegah penolakan organ ginjal yang didonorkan dengan melemahkan sistem imun (daya tahan) tubuh. Sehingga meningkatkan risiko terjadinya infeksi virus dan infeksi lainnya.

Berikut beberapa tips untuk meminimalisir terjadinya risiko infeksi:

1.

Menemukan dan menangani infeksi sedini mungkin.

2.

Paparan terhadap flu atau pneumonia dapat berakibat fatal.

3.

Mengikuti program vaksinasi yang dianjurkan oleh dokter.

4.

Mencuci tangan dengan sabun antiseptik pada musim flu dan pilek serta menggunakan masker.

5.

Menjaga kebersihan terutama setelah bersentuhan dengan hewan peliharaan.

6.

Menghindari kontak dengan pasien yang mengalami penyakit yang menular.

7.

Menghindari kontak dengan anak-anak yang baru saja mendapat vaksin (terutama vaksin virus hidup, misalnya vaksin polio yang diberikan melalui mulut, vaksin gondok dan campak, vaksin influenza nasal) atau orang dewasa yang mendapat vaksin varicella, vaksin influensa nasal.

8.

Menjaga kebersihan makanan.

9.

Menginformasikan ke dokter apabila berencana untuk bepergian agar dokter dapat menganjurkan pemberian vaksin tertentu untuk mencegah infeksi di tempat tujuan tersebut.

Pemberian Vaksin

Vaksin berperan dalam melindungi tubuh terhadap infeksi, namun beberapa vaksin tidak baik bagi pasien yang menjalani transplantasi, terutama vaksin dengan virus hidup.

Berikut beberapa hal yang sebaiknya dilakukan/ tidak dilakukan berkaitan dengan vaksinasi:

1.

Pasien disarankan untuk mendapatkan vaksin hepatitis B sebelum menjalani transplantasi.

2.

Menghindari vaksinasi dengan menggunakan virus hidup.

3.

Menghindari vaksin influenza nasal.

4.

enunggu hingga 3-6 bulan setelah transplantasi sebelum mendapat vaksin flu dan kemudian mendapat booster tahunan (hanya dengan pemberian injeksi).

DAFTAR PUSTAKA

Care after Kidney Transplant. National Kidney Foundation [internet]. [cited: 2017 January 2nd]. Available from: https://www.kidney.org/atoz/content/immunosuppression

Kidney Transplant. National Kidney Foundation [internet]. [cited: 2017 January 2nd]. Available from: https://www.kidney.org/atoz/content/kidneytransnewlease

Kidney Transplantation. Kidney Research UK [internet]. [cited: 2017 January 2nd]. Available from: https://www.kidneyresearchuk.org/health-information/kidney-transplantation

SUMBER GAMBAR

http://www.slideshare.net/TravelforBlossom/kidney-transplantation-37917739